ANALISIS KINERJA PELAYANAN ANGKUTAN UMUM DI KABUPATEN BULUKUMBA
Abstrak
secara fisik kualitas Angkutan Kota jenis pete-pete di Kabupaten Bulukumba memang
kurang memberikan kenyamanan, misalnya tempat duduk tidak terawat karena kurangnya masa
perawatan dan pada umumnya sopir angkutan Kota membiarkan penumpang berdempet-dempetan
sehingga penumpang merasa pengap dikarenakan tidak menggunakan AC. Pada awal pelayanannya
Angkutan Kota (ANGKOTA) mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat karena selain
relatif mudah diperoleh, tarifnya juga murah jika dibandingkan angkutan kota lainnya. Namun
kondisi ini ternyata semakin lama cenderung menurun jika dilihat secara visual. Teridentifikasi
bahwa fisik kendaraan yang masih tetap seperti awal beroperasi menjadi penyebab kecenderungan
tersebut. Permasalahan ini didekati dengan cara membandingkan antara tingkat pelayanan eksisting
dengan standar yang ditetapkan Direktorat Jendral Perhubungan Darat melalui pedoman teknis
penyelenggara angkutan penumpang umum diwilayah perkotaan dalam trayek tetap dan teratur,
serta juga dengan membandingkan tingkat pelayanan eksisting dengan standar yang telah
ditetapkan oleh World Bank yang tercantum dalam A World Bank Study (1986). Penelitian ini
bersifat deskriptif dengan analisis kuantitatif merupakan jenis studi kasus dengan survey dan
observasi langsung di lapangan guna mengetahui kondisi tingkat pelayanan dalam hal ini
meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan kinerja tingkat pelayanan angkutan umum
trayek dalam Kota di Kabupaten Bulukumba. Hasil Penelitian Menunjukkan Informasi yang
diperoleh dari masyarakat pengguna angkutan umum di Kabupaten Bulukumba terhadap pelayanan
lewat kuesioner yang disebarkan diketahui hal-hal antara lain: (I)Pengguna didominasi oleh pelajar,
maksud perjalanan untuk sekolah dengan frekwensi perjalanan setiap hari dan pengeluaran
pengguna angkutan kota antara Rp. 5.000 – 10.000. (II) Persepsi pengguna terhadap kualitas
Angkutan Kota, seperti: mudah mendapatkan, waktu tunggu yang relatif singkat dan tarif murah.
(III) Secara keseluruhan tingkat pelayanan Angkutan Kota apabila mengacu pada standar yang
ditetapkan oleh Departemen Perhubungan maupun dengan metode Sturgess mempunyai kinerja
baik.
Kata Kunci : Angkutan Kota, Pete-Pete, Tingkat Pelayanan
kurang memberikan kenyamanan, misalnya tempat duduk tidak terawat karena kurangnya masa
perawatan dan pada umumnya sopir angkutan Kota membiarkan penumpang berdempet-dempetan
sehingga penumpang merasa pengap dikarenakan tidak menggunakan AC. Pada awal pelayanannya
Angkutan Kota (ANGKOTA) mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat karena selain
relatif mudah diperoleh, tarifnya juga murah jika dibandingkan angkutan kota lainnya. Namun
kondisi ini ternyata semakin lama cenderung menurun jika dilihat secara visual. Teridentifikasi
bahwa fisik kendaraan yang masih tetap seperti awal beroperasi menjadi penyebab kecenderungan
tersebut. Permasalahan ini didekati dengan cara membandingkan antara tingkat pelayanan eksisting
dengan standar yang ditetapkan Direktorat Jendral Perhubungan Darat melalui pedoman teknis
penyelenggara angkutan penumpang umum diwilayah perkotaan dalam trayek tetap dan teratur,
serta juga dengan membandingkan tingkat pelayanan eksisting dengan standar yang telah
ditetapkan oleh World Bank yang tercantum dalam A World Bank Study (1986). Penelitian ini
bersifat deskriptif dengan analisis kuantitatif merupakan jenis studi kasus dengan survey dan
observasi langsung di lapangan guna mengetahui kondisi tingkat pelayanan dalam hal ini
meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan kinerja tingkat pelayanan angkutan umum
trayek dalam Kota di Kabupaten Bulukumba. Hasil Penelitian Menunjukkan Informasi yang
diperoleh dari masyarakat pengguna angkutan umum di Kabupaten Bulukumba terhadap pelayanan
lewat kuesioner yang disebarkan diketahui hal-hal antara lain: (I)Pengguna didominasi oleh pelajar,
maksud perjalanan untuk sekolah dengan frekwensi perjalanan setiap hari dan pengeluaran
pengguna angkutan kota antara Rp. 5.000 – 10.000. (II) Persepsi pengguna terhadap kualitas
Angkutan Kota, seperti: mudah mendapatkan, waktu tunggu yang relatif singkat dan tarif murah.
(III) Secara keseluruhan tingkat pelayanan Angkutan Kota apabila mengacu pada standar yang
ditetapkan oleh Departemen Perhubungan maupun dengan metode Sturgess mempunyai kinerja
baik.
Kata Kunci : Angkutan Kota, Pete-Pete, Tingkat Pelayanan
