Skripsi/Tesis

Faktor risiko kejadian stunting di wilayah kerja puskesmas Banggae II Majene

Abstrak

Stunting dikenal dengan kekurangan gizi kronis dan bisa menyebabkan efek jangka panjang yang merugikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, rentan penyakit, ekonomi rendah, dan kualitas hasil reproduksi. Dalam mengukur Stunting, indikator yang umum digunakan yaitu panjang badan menurut usia (PB/U) atau tinggi badan menurut usia (TB/U) dengan membandingkan hasil pengukuran antropometri anak dengan standar pertumbuhan yang sudah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jika hasil pengukuran menunjukkan Z-Score kurang dari -2 standar deviasi (SD) hingga -3 SD, anak dianggap pendek/stunted. Jika Z-Score kurang dari -3 SD, anak dianggap sangat pendek/severely stunted. Pada penelitian kali ini memiliki tujuan untuk membuktikan apakah ada hubungan Kadarzi, KAP, Self-Efficacy, dan Sosial Budaya terhadap Kejadian Stunting serta mecaritahu variabel mana yang paling besar hubungannya terhadap Stunting.
Penelitian ini menggunakan Penelitian observasional dengan pendekatan case-control dan pengambilan sampel menggunakan teknik accidental samplng. Dalam kasus ini, populasi yang diteliti adalah semua balita diwilayah kerja Puskesmas Banggae II Majene dan jumlah sampel yang digunakan 112 reponden. Metode analisis data yang dilibatkan dalam penelitian ini yaitu analisis univariat, bivariat, dan multivariat serta menggunakan uji chi-square dan Regresi Binary logistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator Usia Ibu (OR=0,682), Jenis kelamin (OR=0,699), dan KAP (OR=0,321) bukan faktor risiko tetapi faktor protektif terhadap timbulnya stunting. Sedangkan, pekerjaan ibu (OR=2,037), pendidikan terakhir (OR=1,533), kadarzi (OR=17,274), self-efficacy (OR=3,240), dan sosial budaya (OR=7,857) merupakan faktor risiko kejadian stunting di wilayah kerja puskesmas Banggae II Majene. Kadarzi sebagai variabel yang paling berisiko dengan Exp(B) = 17,274. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Kadarzi adalah variabel yang paling berisiko signifikan dengan kejadian stunting dibandingkan variabel usia ibu, jenis kelamin, pekerjaan ibu, pendidikan terakhir, KAP, Self-efficacy¸ dan sosial budaya, dan kadarzi memiliki risiko 17,274 kali terhadap kejadian stunting.
Peneliti menyarankan kepada orang tua untuk memperhatikan Kadarzi, KAP, Self-Efficacy, dan sosial budaya dalam kehidupan sehari-hari terkhusus Kadarzi, balita yang mengalami stunting disarankan untuk tetap menjaga asupan gizinya,penentuan jenis makanan, mengonsumsi vitamin dan makanan tambahan dari posyandu, jadwal dan frekuensi makan yang sesuai, rutin mengikuti posyandu

Kata Kunci

Stunting, Kadarzi, KAP, Self-Efficacy, Sosial Budaya

Dokumen

SAMPUL (1).pdf
application/pdf · 212 KB
Lihat dokumen →
Lembar Pengesahan (4).pdf
application/pdf · 215 KB
Lihat dokumen →
DAFTAR ISI (4).pdf
application/pdf · 209 KB
Lihat dokumen →
RINGKASAN (4).pdf
application/pdf · 273 KB
Lihat dokumen →
BAB I (3).pdf
application/pdf · 305 KB
Lihat dokumen →
BAB V (1).pdf
application/pdf · 752 KB
Lihat dokumen →
DAFTAR PUSTAKA (3).pdf
application/pdf · 474 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 0 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 1 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 2 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 4 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 9 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 6 KB
Lihat dokumen →

Lihat di Repository Asli