Peran Kelompok Tani Terhadap Produksi Usahatani Kentang (Solanum tuberosum L.) di Kabupaten Gowa (Studi Kasus pada Kelompok Tani di Desa Erelembang, Kecamatan Tombolopao).
Abstrak
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu komoditas
hortikultura unggulan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dibandingkan
komoditas hortikultura lainnya. Sulawesi Selatan berkontribusi sekitar 45%
terhadap produksi kentang di Pulau Sulawesi, dengan Kabupaten Gowa, khususnya
wilayah Malino, sebagai sentra produksinya. Desa Erelembang di Kecamatan
Tombolopao merupakan salah satu daerah penghasil kentang yang potensial,
didukung oleh kondisi wilayah dataran tinggi yang sesuai untuk budidaya.
Meskipun demikian, produktivitas kentang di wilayah ini masih fluktuatif dan
belum optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
produksi adalah melalui peran kelompok tani, yang berfungsi sebagai kelas belajar,
wahana kerja sama, dan unit produksi, sehingga petani dapat saling bertukar
pengalaman, memperoleh pengetahuan baru.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi jumlah produksi dan
menganalisis pendapatan usahatani kentang, (2) mendeskripsikan peran kelompok
tani sebagai kelas belajar, wahana kerja sama, dan unit produksi, serta (3)
menganalisis hubungan peran kelompok tani dengan produksi usahatani kentang di
Desa Erelembang. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan
studi kasus. Sampel terdiri dari 60 responden yang diambil secara acak dari tiga
kelompok tani. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner,
sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait. Analisis yang digunakan
adalah analisis deskriptif dan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi kentang sebesar
8.717 kg/petani atau 16.763 kg/ha, dengan luas rata-rata lahan yang dimiliki oleh
responden adalah 0,5 hektar, dengan rata-rata pendapatan sebesar
Rp76.548.075/petani atau Rp147.207.837/ha, menunjukkan bahwa usahatani
kentang menguntungkan. Peran kelompok tani pada ketiga aspek kelas belajar,
wahana kerja sama, dan unit produksi berada pada kategori Cukup Setuju, artinya
perannya sudah terlaksana tetapi masih perlu ditingkatkan. Hal ini menunjukkan
bahwa fungsi kelompok tani belum berjalan secara optimal, sehingga diperlukan
peningkatan partisipasi anggota, serta dukungan dari pihak terkait agar peran
kelompok tani dapat lebih efektif dalam produksi usahatani kentang. Uji Chi
Square menunjukkan bahwa ketiga variable yaitu kelas belajar (X1), wahana kerja
sama(X2), dan unit produksi (X2), memiliki hubungan yang signifikan terhadap
tingkat produksi(Y) dengan (nilai signifikansi < 0,05).
hortikultura unggulan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dibandingkan
komoditas hortikultura lainnya. Sulawesi Selatan berkontribusi sekitar 45%
terhadap produksi kentang di Pulau Sulawesi, dengan Kabupaten Gowa, khususnya
wilayah Malino, sebagai sentra produksinya. Desa Erelembang di Kecamatan
Tombolopao merupakan salah satu daerah penghasil kentang yang potensial,
didukung oleh kondisi wilayah dataran tinggi yang sesuai untuk budidaya.
Meskipun demikian, produktivitas kentang di wilayah ini masih fluktuatif dan
belum optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
produksi adalah melalui peran kelompok tani, yang berfungsi sebagai kelas belajar,
wahana kerja sama, dan unit produksi, sehingga petani dapat saling bertukar
pengalaman, memperoleh pengetahuan baru.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi jumlah produksi dan
menganalisis pendapatan usahatani kentang, (2) mendeskripsikan peran kelompok
tani sebagai kelas belajar, wahana kerja sama, dan unit produksi, serta (3)
menganalisis hubungan peran kelompok tani dengan produksi usahatani kentang di
Desa Erelembang. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan
studi kasus. Sampel terdiri dari 60 responden yang diambil secara acak dari tiga
kelompok tani. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner,
sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait. Analisis yang digunakan
adalah analisis deskriptif dan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi kentang sebesar
8.717 kg/petani atau 16.763 kg/ha, dengan luas rata-rata lahan yang dimiliki oleh
responden adalah 0,5 hektar, dengan rata-rata pendapatan sebesar
Rp76.548.075/petani atau Rp147.207.837/ha, menunjukkan bahwa usahatani
kentang menguntungkan. Peran kelompok tani pada ketiga aspek kelas belajar,
wahana kerja sama, dan unit produksi berada pada kategori Cukup Setuju, artinya
perannya sudah terlaksana tetapi masih perlu ditingkatkan. Hal ini menunjukkan
bahwa fungsi kelompok tani belum berjalan secara optimal, sehingga diperlukan
peningkatan partisipasi anggota, serta dukungan dari pihak terkait agar peran
kelompok tani dapat lebih efektif dalam produksi usahatani kentang. Uji Chi
Square menunjukkan bahwa ketiga variable yaitu kelas belajar (X1), wahana kerja
sama(X2), dan unit produksi (X2), memiliki hubungan yang signifikan terhadap
tingkat produksi(Y) dengan (nilai signifikansi < 0,05).
Kata Kunci
Peran kelompok Tani, Produksi Kentang, Unit produksi
