Analisis Kelayakan Dan Nilai Tambah Usaha Pengolahan Melinjo Menjadi Emping Studi Kasus Di Desa Bonea Timur Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
Abstrak
Melinjo (Gnetum gnemon, L.) merupakan tanaman berbiji terbuka
(Gymnospermae) dengan biji tidak terbungkus daging tetapi hanya terbungkus kulit luar
(cangkang). Tanaman melinjo dapat hidup hingga umur di atas 100 tahun dan masih
bisa menghasilkan buah (bagi tanaman yang memenuhi syarat bisa berbuah). Tanaman
melinjo mulai berbuah pada umur 3-4 tahun, di mana kulit buahnya mulai berwarna
merah dan kulit bijinya agak cokelat kehitaman maka melinjo sudah siap panen. hampir
seluruh dari bagian tanaman melinjo dapat dimanfaatkan seperti daun mudanya,
bunganya, kulit batangnnya, dan bijinya. Bahan makanan yang berasal dari tanaman
melinjo memiliki kandungan gizi antara lain karbohidrat, lemak, protein, mineral dan
vitamin-vitamin. Tanaman melinjo mulai berbuah.
Tujuan Penelitian:(1).Mendeskripsikan pengolahan Melinjo menjadi Emping di
Desa Bonea Timur Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
(2).Mengidentifikasi produksi dan menganalisis pendapatan usaha Emping? (3).
Menganalisis kelayakan usaha pengolahanMelinjo menjadi Emping.
Teknik/cara menentukan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
sensus yaitu mengambil semua populasi menjadi responden. seluruh petani yang
mengolah Melinjo menjadi Emping yang ada di Desa Bonea Timur, Kecamatan
Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar sebanyak 40 petani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pengolahan emping terdiri atas
beberapa tahapan: Pemilihan biji melinjo, Penyangraian (sangrai) biji melinjo,
Pengelupasan kulit keras biji melinjo, Pemipihan biji melinjo, Penjemuran emping,
Pengemasan emping yang telah kering dalam plastik bening. (2) Produksi Emping
Melinjo emping di Desa Bonea Timur tergolong skala kecil dan masih menggunakan
tenaga manual. Rata-rata produksi per pengrajin adalah 99 kg, dengan distribusi
terbanyak berada pada kelompok produksi 70-99 kg (47,5% dari total responden).
Tingkat produksi sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku melinjo, jumlah
tenaga kerja keluarga yang terlibat, serta kondisi cuaca saat penjemuran berlangsung.
(3) Hasil analisis kelayakan menggunakan metode R/C ratio menunjukkan nilai 3,72,
yang berarti bahwa setiap pengeluaran Rp 1 menghasilkan pendapatan sebesar Rp 3,72.
Dengan demikian, usaha pengolahan emping sangat layak secara finansial untuk
dijalankan dan dikembangkan. Ini menunjukkan efisiensi usaha dan potensi keuntungan
jangka panjang. Nilai R/C ratio > 1 juga memberikan jaminan bahwa usaha ini mampu
bertahan meskipun terjadi sedikit fluktuasi harga bahan baku atau output.
(Gymnospermae) dengan biji tidak terbungkus daging tetapi hanya terbungkus kulit luar
(cangkang). Tanaman melinjo dapat hidup hingga umur di atas 100 tahun dan masih
bisa menghasilkan buah (bagi tanaman yang memenuhi syarat bisa berbuah). Tanaman
melinjo mulai berbuah pada umur 3-4 tahun, di mana kulit buahnya mulai berwarna
merah dan kulit bijinya agak cokelat kehitaman maka melinjo sudah siap panen. hampir
seluruh dari bagian tanaman melinjo dapat dimanfaatkan seperti daun mudanya,
bunganya, kulit batangnnya, dan bijinya. Bahan makanan yang berasal dari tanaman
melinjo memiliki kandungan gizi antara lain karbohidrat, lemak, protein, mineral dan
vitamin-vitamin. Tanaman melinjo mulai berbuah.
Tujuan Penelitian:(1).Mendeskripsikan pengolahan Melinjo menjadi Emping di
Desa Bonea Timur Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
(2).Mengidentifikasi produksi dan menganalisis pendapatan usaha Emping? (3).
Menganalisis kelayakan usaha pengolahanMelinjo menjadi Emping.
Teknik/cara menentukan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
sensus yaitu mengambil semua populasi menjadi responden. seluruh petani yang
mengolah Melinjo menjadi Emping yang ada di Desa Bonea Timur, Kecamatan
Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar sebanyak 40 petani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pengolahan emping terdiri atas
beberapa tahapan: Pemilihan biji melinjo, Penyangraian (sangrai) biji melinjo,
Pengelupasan kulit keras biji melinjo, Pemipihan biji melinjo, Penjemuran emping,
Pengemasan emping yang telah kering dalam plastik bening. (2) Produksi Emping
Melinjo emping di Desa Bonea Timur tergolong skala kecil dan masih menggunakan
tenaga manual. Rata-rata produksi per pengrajin adalah 99 kg, dengan distribusi
terbanyak berada pada kelompok produksi 70-99 kg (47,5% dari total responden).
Tingkat produksi sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku melinjo, jumlah
tenaga kerja keluarga yang terlibat, serta kondisi cuaca saat penjemuran berlangsung.
(3) Hasil analisis kelayakan menggunakan metode R/C ratio menunjukkan nilai 3,72,
yang berarti bahwa setiap pengeluaran Rp 1 menghasilkan pendapatan sebesar Rp 3,72.
Dengan demikian, usaha pengolahan emping sangat layak secara finansial untuk
dijalankan dan dikembangkan. Ini menunjukkan efisiensi usaha dan potensi keuntungan
jangka panjang. Nilai R/C ratio > 1 juga memberikan jaminan bahwa usaha ini mampu
bertahan meskipun terjadi sedikit fluktuasi harga bahan baku atau output.
Kata Kunci
Produksi,Kelayakan Usaha, Emping
