DETERMINAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KASSI-KASSI KOTA MAKASSAR TAHUN 2025
Abstrak
Stunting menjadi permasalahan kesehatan karena berhubungan
dengan risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak
suboptimal, sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya
pertumbuhan mental. Stunting adalah kondisi balita yang memiliki panjang
atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Balita
stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam
mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Determinan Kejadian
Stunting Pada Balita usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-
Kassi Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
kuantatif dengan cross sectional, sampel pada penelitian ini adalah balita
24-59 bulan sebanyak 96 orang. Analisis data yang digunakan adalah
analisis univariat, dan analisis bivariat dengan uji chi square. Pada
penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dengan
menggunakan kuisioner.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 96 responden,
berdasarkan hasi uji C square, ada Hubungan Riwayat pemberian Makanan
Pendaping ASI (nilai p =0,000), Riwayat Pemberian ASI Esklusif (nilai p =
0,001), Riwayat Berat Badan Lahir Rendah (nilai p = 0,000), Makanan
xviii
Kemasan (nilai p = 0,043) dan isapan jempol (nilai p = 0,002) terhadap
kejadian stunting, dan tidak ada hubungan antara personal hygiene ibu
(nilai p = 0,581), personal hygiene anak (nilai p = 0,211).
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa Pemberian Makanan
Pendamping ASI dan ASI eksklusif yang tidak tepat, serta riwayat Berat
Badan Lahir Rendah, kebiasaan isapan jempol dan pemberian makanan
kemasan berkontribusi terhadap terjadinya stunting. Upaya pencegahan
perlu difokuskan pada edukasi ibu dan pemantauan gizi sejak dini.
Peneliti menyarankan kepada Puskesmas Kassi-Kassi agar
meningkatkan kegiatan penyuluhan mengenai pentingnya ASI eksklusif,
pemberian MP-ASI bergizi seimbang, serta edukasi tentang bahaya
makanan kemasan dan kebiasaan isapan jempol. Ibu hamil dan menyusui
diharapkan lebih aktif memanfaatkan buku KIA serta menjaga kecukupan
gizi selama kehamilan untuk mencegah BBLR. Kader posyandu disarankan
memperkuat pemantauan gizi balita melalui kegiatan penimbangan dan
konseling gizi secara rutin, sedangkan Dinas Kesehatan Kota Makassar
perlu memperkuat program intervensi pencegahan stunting dengan menitik
beratkan pada faktor risiko signifikan. Masyarakat diharapkan
meningkatkan pola asuh, menjaga kebersihan lingkungan, serta
mengurangi konsumsi makanan instan pada balita. Selain itu, hasil
penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi institusi pendidikan kesehatan,
sementara peneliti selanjutnya disarankan memperluas variabel penelitian,
seperti kondisi sosial ekonomi, pendidikan ibu, pola asuh, sanitasi, dan
akses layanan kesehatan, agar hasil penelitian lebih komprehensif.
dengan risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak
suboptimal, sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya
pertumbuhan mental. Stunting adalah kondisi balita yang memiliki panjang
atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Balita
stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam
mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Determinan Kejadian
Stunting Pada Balita usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-
Kassi Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
kuantatif dengan cross sectional, sampel pada penelitian ini adalah balita
24-59 bulan sebanyak 96 orang. Analisis data yang digunakan adalah
analisis univariat, dan analisis bivariat dengan uji chi square. Pada
penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dengan
menggunakan kuisioner.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 96 responden,
berdasarkan hasi uji C square, ada Hubungan Riwayat pemberian Makanan
Pendaping ASI (nilai p =0,000), Riwayat Pemberian ASI Esklusif (nilai p =
0,001), Riwayat Berat Badan Lahir Rendah (nilai p = 0,000), Makanan
xviii
Kemasan (nilai p = 0,043) dan isapan jempol (nilai p = 0,002) terhadap
kejadian stunting, dan tidak ada hubungan antara personal hygiene ibu
(nilai p = 0,581), personal hygiene anak (nilai p = 0,211).
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa Pemberian Makanan
Pendamping ASI dan ASI eksklusif yang tidak tepat, serta riwayat Berat
Badan Lahir Rendah, kebiasaan isapan jempol dan pemberian makanan
kemasan berkontribusi terhadap terjadinya stunting. Upaya pencegahan
perlu difokuskan pada edukasi ibu dan pemantauan gizi sejak dini.
Peneliti menyarankan kepada Puskesmas Kassi-Kassi agar
meningkatkan kegiatan penyuluhan mengenai pentingnya ASI eksklusif,
pemberian MP-ASI bergizi seimbang, serta edukasi tentang bahaya
makanan kemasan dan kebiasaan isapan jempol. Ibu hamil dan menyusui
diharapkan lebih aktif memanfaatkan buku KIA serta menjaga kecukupan
gizi selama kehamilan untuk mencegah BBLR. Kader posyandu disarankan
memperkuat pemantauan gizi balita melalui kegiatan penimbangan dan
konseling gizi secara rutin, sedangkan Dinas Kesehatan Kota Makassar
perlu memperkuat program intervensi pencegahan stunting dengan menitik
beratkan pada faktor risiko signifikan. Masyarakat diharapkan
meningkatkan pola asuh, menjaga kebersihan lingkungan, serta
mengurangi konsumsi makanan instan pada balita. Selain itu, hasil
penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi institusi pendidikan kesehatan,
sementara peneliti selanjutnya disarankan memperluas variabel penelitian,
seperti kondisi sosial ekonomi, pendidikan ibu, pola asuh, sanitasi, dan
akses layanan kesehatan, agar hasil penelitian lebih komprehensif.
Kata Kunci
Stunting, Balita, berat Badan Lahir Rendah, Pemberian Makanan Pendamping ASI, Hygiene
