Skripsi/Tesis

PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM DETEKSI DINI STUNTING PADA ANAK BADUTA (BAWAH USIA DUA TAHUN) BERDASARKAN KOMPONEN STIMULUS, ORGANISME, DAN RESPONSE (SOR) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARUSU

Abstrak

Berdasarkan Survei Studi Status Gizi Indonesia Sulawesi selatan
menduduki posisi kesepuluh besar 27,2% dari 34 provinsi dan
berdasarkan Kabupaten/Kota sebanyak 25 Kabupaten. Dimana
Kabupaten Maros berada di urutan ke-5 dengan kasus stunting hingga
pada akhir agustus sebanyak 3.765 orang terkena stunting dan angka
kejadian stunting tertinggi di Kabupaten Maros terdapat di Kecamatan
Marusu sebanyak 41 orang pada tahun 2023. Tujuan penelitian ini agar
bisa melihat pemberdayaan kader posyandu dalam deteksi dini stunting
pada anak baduta berdasarkan komponen SOR di wilayah kerja
Puskesmas Marusu.
Jenis penelitian ini ialah penelitian kuantitatif dengan menggunakan
metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader
posyandu di wilayah kerja Puskesmas Marusu sebanyak 123 orang
sehingga besar sampel yang digunakan sebanyak 98 orang kader
posyandu dengan menggunakan accidental sampling.
Hasilnya didapatkan sesuai dengan data yang diperoleh melalui
kuesioner lalu dianalisis secara deskriptif untuk menjelaskan Gambaran
pemberdayaan kader posyandu dalam deteksi dini stunting pada anak
baduta dilihat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori Stimulus
yang cukup sebanyak 67 responden dengan persentase 68,4% dan tidak
cukup sebanyak 31 responden dengan persentase 31,6%. menjawab
salah (36,7%), hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori Organisme
yang cukup sebanyak 56 responden dengan persentase 57,2% dan
kategori tidak cukup sebanyak 42 responden dengan persentase 42,8%
dan hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori Response yang cukup
sebanyak 59 responden dengan persentase sebesar 60,4% dan kategori
tidak cukup sebanyak 39 responden dengan persentase 39,6%.
Saran diharapkan pihak dari instansi terkait dalam meningkatkan
stimulus kader posyandu dapat memanfaatkan media sebagai media
pembelajaran seperti modul, video edukasi maupun grup daring agar
kader yang tidak mengikuti pelatihan bisa memperoleh informasi yang
sama, dalam meningkatkan organisme instansi terkait dapat melakukan
xv
monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa kader telah
memahami materi dengan baik dan mampu menerapkannya dalam
kegiatan posyandu, dalam meningkatkan response kader posyandu dapat
melakukan pelaksanaan training of trainers (ToT) di mana kader yang
telah mendapatkan pelatihan dilatih kembali agar mampu menyampaikan
informasi dengan efektif kepada kader lainnya.

Kata Kunci

Stunting, Stimulus, Organisme, Respon

Dokumen

Halaman Sampul-1.pdf
application/pdf · 80 KB
Lihat dokumen →
Halaman pengesahan-1.pdf
application/pdf · 364 KB
Lihat dokumen →
Daftar Isi-7.pdf
application/pdf · 81 KB
Lihat dokumen →
Abstrak-2.pdf
application/pdf · 219 KB
Lihat dokumen →
BAB 1-1.pdf
application/pdf · 203 KB
Lihat dokumen →
Bab 5.pdf
application/pdf · 340 KB
Lihat dokumen →
Daftar Pustaka-7.pdf
application/pdf · 195 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 0 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 1 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 1 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 4 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 6 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 3 KB
Lihat dokumen →

Lihat di Repository Asli