Manajemen Risiko Dan Kelayakan Usaha Browniepop Di Kota Makassar
Abstrak
Usaha BrowniePop adalah produk makanan ringan berbahan dasar brownies
yang dibentuk menyerupai bola kecil dengan berbagai topping yang menarik.
Produk ini dipilih karena memiliki cita rasa yang khas, tampilan yang menarik, serta
praktis untuk dikonsumsi sehingga memiliki potensi pasar yang cukup baik,
khususnya di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Pengembangan usaha
BrowniePop tidak terlepas dari berbagai risiko yang dapat memengaruhi
keberlangsungan usaha, sehingga perlu diterapkan manajemen risiko untuk
mengembangkan usaha.
Tujuan penelitian yaitu: (1) mengidentifikasi risiko pada usaha
BrowniePop; (2) menganalisis manajemen risiko; (3) menganalisis kelayakan usaha
BrowniePop sebagai inovasi olahan produk pertanian. Metode analisis data
menggunakan analisis deskriptif, analisis manajemen risiko SNI ISO 31000:2008
dan analisis kelayakan usaha.
Hasil identifikasi risiko pada usaha BrowniePop menunjukkan terdapat lima
risiko utama, yaitu keterbatasan modal usaha (R1), penggunaan alat produksi
berkapasitas kecil (R2), takaran dan waktu pemanggangan kurang tepat (R3),
pengemasan yang tidak kedap optimal (R4), serta keterbatasan pemasaran dan
distribusi (R5). Berdasarkan analisis manajemen risiko, terdapat tiga risiko dengan
kategori tinggi (high risk), yaitu R1, R2, R4, dua risiko kategori sedang
(medium risk), yaitu R3, R5. Untuk mengatasi risiko tersebut, diperlukan strategi
penanganan, yaitu efisiensi pengelolaan keuangan, peningkatan kapasitas alat
produksi, penyusunan SOP, perbaikan teknik pengemasan, serta penguatan strategi
pemasaran. Hasil analisis kelayakan usaha menunjukkan bahwa meskipun total
biaya produksi meningkat pada bulan kedua dan ketiga akibat kenaikan biaya
variabel, peningkatan tersebut diimbangi oleh kenaikan penjualan sehingga
pendapatan usaha juga meningkat. Pendapatan naik dari Rp 497.333 pada November 2025 menjadi Rp 548.800 pada Desember 2025 dan Januari 2026.
Terjadi peningkatan nilai R/C-ratio usaha dari 1,19 menjadi 1,20 menunjukkan
bahwa usaha BrowniePop layak dan menguntungkan. Namun, keuntungan masih
relatif kecil karena usaha rentan terhadap kenaikan biaya produksi dan penurunan
volume penjualan. Secara keseluruhan, usaha layak dikembangkan dengan
perbaikan pada efisiensi biaya, manajemen risiko, dan strategi pemasaran.
Kegiatan usaha BrowniePop mengembangkan kemampuan kognitif, afektif,
dan konatif mahasiswa, seperti kemampuan analisis, pengambilan keputusan,
kepercayaan diri, komunikasi, serta inisiatif. Meskipun menghadapi kendala seperti
keterbatasan modal, bahan baku, dan persaingan pasar, upaya perbaikan telah
dilakukan melalui efisiensi biaya dan peningkatan promosi. Ke depan, diperlukan
peningkatan kapasitas produksi, strategi pemasaran, dan inovasi produk untuk
mendukung keberlanjutan usaha
yang dibentuk menyerupai bola kecil dengan berbagai topping yang menarik.
Produk ini dipilih karena memiliki cita rasa yang khas, tampilan yang menarik, serta
praktis untuk dikonsumsi sehingga memiliki potensi pasar yang cukup baik,
khususnya di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Pengembangan usaha
BrowniePop tidak terlepas dari berbagai risiko yang dapat memengaruhi
keberlangsungan usaha, sehingga perlu diterapkan manajemen risiko untuk
mengembangkan usaha.
Tujuan penelitian yaitu: (1) mengidentifikasi risiko pada usaha
BrowniePop; (2) menganalisis manajemen risiko; (3) menganalisis kelayakan usaha
BrowniePop sebagai inovasi olahan produk pertanian. Metode analisis data
menggunakan analisis deskriptif, analisis manajemen risiko SNI ISO 31000:2008
dan analisis kelayakan usaha.
Hasil identifikasi risiko pada usaha BrowniePop menunjukkan terdapat lima
risiko utama, yaitu keterbatasan modal usaha (R1), penggunaan alat produksi
berkapasitas kecil (R2), takaran dan waktu pemanggangan kurang tepat (R3),
pengemasan yang tidak kedap optimal (R4), serta keterbatasan pemasaran dan
distribusi (R5). Berdasarkan analisis manajemen risiko, terdapat tiga risiko dengan
kategori tinggi (high risk), yaitu R1, R2, R4, dua risiko kategori sedang
(medium risk), yaitu R3, R5. Untuk mengatasi risiko tersebut, diperlukan strategi
penanganan, yaitu efisiensi pengelolaan keuangan, peningkatan kapasitas alat
produksi, penyusunan SOP, perbaikan teknik pengemasan, serta penguatan strategi
pemasaran. Hasil analisis kelayakan usaha menunjukkan bahwa meskipun total
biaya produksi meningkat pada bulan kedua dan ketiga akibat kenaikan biaya
variabel, peningkatan tersebut diimbangi oleh kenaikan penjualan sehingga
pendapatan usaha juga meningkat. Pendapatan naik dari Rp 497.333 pada November 2025 menjadi Rp 548.800 pada Desember 2025 dan Januari 2026.
Terjadi peningkatan nilai R/C-ratio usaha dari 1,19 menjadi 1,20 menunjukkan
bahwa usaha BrowniePop layak dan menguntungkan. Namun, keuntungan masih
relatif kecil karena usaha rentan terhadap kenaikan biaya produksi dan penurunan
volume penjualan. Secara keseluruhan, usaha layak dikembangkan dengan
perbaikan pada efisiensi biaya, manajemen risiko, dan strategi pemasaran.
Kegiatan usaha BrowniePop mengembangkan kemampuan kognitif, afektif,
dan konatif mahasiswa, seperti kemampuan analisis, pengambilan keputusan,
kepercayaan diri, komunikasi, serta inisiatif. Meskipun menghadapi kendala seperti
keterbatasan modal, bahan baku, dan persaingan pasar, upaya perbaikan telah
dilakukan melalui efisiensi biaya dan peningkatan promosi. Ke depan, diperlukan
peningkatan kapasitas produksi, strategi pemasaran, dan inovasi produk untuk
mendukung keberlanjutan usaha
Kata Kunci
BrowniePop, Manajemen Risiko, Kelayakan Usaha, R/C Ratio
