Peran Penyuluh Pertanian Lapangan Dalam Meningkatkan Produksi Usahatani Padi (Oryza sativa L) Di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara (Studi Kasus Desa Lasiroku, Kecamatan Iwoimendaa)
Abstrak
Penyuluh pertanian memiliki peranan penting dalam meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, serta kemampuan petani dalam mengelola usahatani. Melalui kegiatan
penyuluhan, petani diharapkan mampu mengembangkan usahataninya secara lebih efektif dan
efisien. Peran penyuluh tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai
fasilitator, motivator, inovator, dan komunikator yang membantu petani dalam menghadapi
berbagai permasalahan usahatani. Desa Lasiroku merupakan salah satu wilayah yang mayoritas
masyarakatnya berprofesi sebagai petani padi sawah, sehingga keberadaan penyuluh pertanian
sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas usahatani padi
sawah.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis jumlah produksi dan produktivitas
usahatani padi di Desa Lasiroku, Kecamatan Iwoimendaa, Kabupaten Kolaka; (2) menganalisis
peran penyuluh dalam meningkatkan produksi padi sawah; dan (3) mengidentifikasi kendalakendala yang dihadapi penyuluh dalam meningkatkan produksi usahatani padi.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lasiroku dengan jumlah responden sebanyak 65 orang
petani padi sawah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik
pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis data yang digunakan
adalah analisis deskriptif dengan menggunakan skala Likert untuk mengetahui tingkat peran
penyuluh dalam kegiatan usahatani padi sawah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rata-rata produksi usahatani padi di Desa
Lasiroku, Kecamatan Iwoimendaa, Kabupaten Kolaka sebesar 87,35 ton dengan tingkat
produktivitas mencapai 5,69 ton/ha. Hasil ini menunjukkan bahwa usahatani padi di wilayah
tersebut tergolong cukup baik dan mampu memberikan hasil yang relatif optimal. Meskipun
demikian, produktivitas masih berpotensi untuk ditingkatkan melalui perbaikan manajemen
budidaya dan optimalisasi penggunaan faktor produksi. (2) Peran penyuluh pertanian dalam
kegiatan usahatani padi sawah yang meliputi peran sebagai fasilitator, motivator, inovator, dan
komunikator secara umum telah berjalan cukup baik, namun masih belum sepenuhnya optimal.
Peran penyuluh sebagai fasilitator berada pada kategori sangat berperan, yang menunjukkan
bahwa penyuluh telah cukup baik dalam memfasilitasi petani melalui pemberian informasi,
arahan, serta membantu petani dalam mengakses berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan
kegiatan usahatani. Peran penyuluh sebagai motivator berada pada kategori cukup berperan,
yang menunjukkan bahwa penyuluh telah memberikan dorongan, arahan, serta pendampingan
kepada petani dalam menjalankan kegiatan usahatani. Peran penyuluh sebagai inovator juga
berada pada kategori cukup berperan, yang menunjukkan bahwa penyuluh telah berupaya
memperkenalkan teknologi maupun informasi baru kepada petani serta memberikan masukan
terkait peningkatan produksi usahatani. Sementara itu, peran penyuluh sebagai komunikator
berada pada kategori cukup berperan, yang menunjukkan bahwa penyuluh telah berperan
sebagai penghubung antara petani dengan berbagai sumber informasi maupun pihak terkait
serta melakukan diskusi dengan petani dalam menyampaikan informasi baru. Namun
demikian, efektivitas komunikasi dan intensitas diskusi masih perlu ditingkatkan agar
informasi yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh petani. (3)
Pelaksanaan penyuluhan dalam meningkatkan usahatani padi belum berjalan secara optimal
karena adanya beberapa kendala, yaitu rendahnya tingkat partisipasi petani dalam kegiatan
penyuluhan, keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, serta jarak tempuh penyuluh yang
cukup jauh menuju lokasi binaan. Kendala-kendala tersebut mempengaruhi efektivitas proses
penyampaian informasi, teknologi, dan inovasi kepada petani.
keterampilan, serta kemampuan petani dalam mengelola usahatani. Melalui kegiatan
penyuluhan, petani diharapkan mampu mengembangkan usahataninya secara lebih efektif dan
efisien. Peran penyuluh tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai
fasilitator, motivator, inovator, dan komunikator yang membantu petani dalam menghadapi
berbagai permasalahan usahatani. Desa Lasiroku merupakan salah satu wilayah yang mayoritas
masyarakatnya berprofesi sebagai petani padi sawah, sehingga keberadaan penyuluh pertanian
sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas usahatani padi
sawah.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis jumlah produksi dan produktivitas
usahatani padi di Desa Lasiroku, Kecamatan Iwoimendaa, Kabupaten Kolaka; (2) menganalisis
peran penyuluh dalam meningkatkan produksi padi sawah; dan (3) mengidentifikasi kendalakendala yang dihadapi penyuluh dalam meningkatkan produksi usahatani padi.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lasiroku dengan jumlah responden sebanyak 65 orang
petani padi sawah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik
pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis data yang digunakan
adalah analisis deskriptif dengan menggunakan skala Likert untuk mengetahui tingkat peran
penyuluh dalam kegiatan usahatani padi sawah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rata-rata produksi usahatani padi di Desa
Lasiroku, Kecamatan Iwoimendaa, Kabupaten Kolaka sebesar 87,35 ton dengan tingkat
produktivitas mencapai 5,69 ton/ha. Hasil ini menunjukkan bahwa usahatani padi di wilayah
tersebut tergolong cukup baik dan mampu memberikan hasil yang relatif optimal. Meskipun
demikian, produktivitas masih berpotensi untuk ditingkatkan melalui perbaikan manajemen
budidaya dan optimalisasi penggunaan faktor produksi. (2) Peran penyuluh pertanian dalam
kegiatan usahatani padi sawah yang meliputi peran sebagai fasilitator, motivator, inovator, dan
komunikator secara umum telah berjalan cukup baik, namun masih belum sepenuhnya optimal.
Peran penyuluh sebagai fasilitator berada pada kategori sangat berperan, yang menunjukkan
bahwa penyuluh telah cukup baik dalam memfasilitasi petani melalui pemberian informasi,
arahan, serta membantu petani dalam mengakses berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan
kegiatan usahatani. Peran penyuluh sebagai motivator berada pada kategori cukup berperan,
yang menunjukkan bahwa penyuluh telah memberikan dorongan, arahan, serta pendampingan
kepada petani dalam menjalankan kegiatan usahatani. Peran penyuluh sebagai inovator juga
berada pada kategori cukup berperan, yang menunjukkan bahwa penyuluh telah berupaya
memperkenalkan teknologi maupun informasi baru kepada petani serta memberikan masukan
terkait peningkatan produksi usahatani. Sementara itu, peran penyuluh sebagai komunikator
berada pada kategori cukup berperan, yang menunjukkan bahwa penyuluh telah berperan
sebagai penghubung antara petani dengan berbagai sumber informasi maupun pihak terkait
serta melakukan diskusi dengan petani dalam menyampaikan informasi baru. Namun
demikian, efektivitas komunikasi dan intensitas diskusi masih perlu ditingkatkan agar
informasi yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh petani. (3)
Pelaksanaan penyuluhan dalam meningkatkan usahatani padi belum berjalan secara optimal
karena adanya beberapa kendala, yaitu rendahnya tingkat partisipasi petani dalam kegiatan
penyuluhan, keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, serta jarak tempuh penyuluh yang
cukup jauh menuju lokasi binaan. Kendala-kendala tersebut mempengaruhi efektivitas proses
penyampaian informasi, teknologi, dan inovasi kepada petani.
Kata Kunci
Penyuluh Pertanian, Peran Penyuluh, Usahatani Padi Sawah.
