Analisis Kelayakan Dan Resiko Produksi Usahatani Jahe (Zingiber Officinale) Di Desa Barugae Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros
Abstrak
Jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rimpang yang sangat popular sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Usahatani jahe menghadapi berbagai risiko seperti ketidakstabilan cuaca, pola budidaya yang buruk, serta serangan hama dan penyakit yang berdampak pada penurunan produksi dan mutu. Produktivitas juga menurun akibat alih fungsi lahan dan kualitas bibit yang rendah. Keberhasilan usahatani jahe sangat ditentukan oleh perbandingan antara penerimaan dan biaya produksi — jika penerimaan lebih besar dari biaya, petani memperoleh pendapatan; sebaliknya, petani mengalami kerugian. Oleh karena itu, peningkatan produksi perlu didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Tujuan penelitian ini sebagai berikut :1. Berapa jumlah produksi usahatani jahe di Desa Barugae Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros? 2.Berapa pendapatan usahatani jahe di Desa Barugae Kacamatan Mallawa kabupaten Maros? 3.Bagaimana kelayakan usahatani jahe di Desa Barugae Kecematan Mallawa Kabupaten Maros? 4.Bagaimana resiko usahatani jahe di Desa Barugae Kecematan Mallawa Kabupaten Maros?
Penelitian dilaksanakan di Desa Barugae, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros selama tiga bulan (November 2025 – Januari 2026), dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan salah satu sentra usahatani jahe di wilayah tersebut. Populasi penelitian berjumlah 349 petani jahe, dan pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode acak sederhana (Simple Random Sampling) sebesar 15% dari total populasi, sehingga diperoleh 51 orang petani jahe sebagai responden.
Analisis data yang digunakan pada penlitian ini analisis deskriptif, analisis pendapatan, analisis kelayakan, analisis risiko.
Hasil penelitian: 1. Total produksi petani mencapai 67.890 kg dengan rata-rata 1.331,18 kg per petani dan produktivitas 1.786,58 kg/ha. Petani dengan lahan 1 ha memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding lahan 0,5 ha. 2. Total biaya usahatani jahe per petani per musim tanam sebesar Rp 3.368.219, didominasi biaya variabel (bibit dan pestisida), sehingga pengeluaran habis pakai menjadi faktor utama. 3. Rata-rata pendapatan bersih per petani Rp 3.480.801. Mayoritas petani berada pada skala usaha kecil hingga menengah, dengan variasi pendapatan dipengaruhi luas lahan, produktivitas, pengalaman, efisiensi input, dan harga jual. 4. Risiko produksi jahe tergolong rendah (CV = 0,), artinya produksi relatif stabil dan memudahkan perencanaan usaha
Penelitian dilaksanakan di Desa Barugae, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros selama tiga bulan (November 2025 – Januari 2026), dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan salah satu sentra usahatani jahe di wilayah tersebut. Populasi penelitian berjumlah 349 petani jahe, dan pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode acak sederhana (Simple Random Sampling) sebesar 15% dari total populasi, sehingga diperoleh 51 orang petani jahe sebagai responden.
Analisis data yang digunakan pada penlitian ini analisis deskriptif, analisis pendapatan, analisis kelayakan, analisis risiko.
Hasil penelitian: 1. Total produksi petani mencapai 67.890 kg dengan rata-rata 1.331,18 kg per petani dan produktivitas 1.786,58 kg/ha. Petani dengan lahan 1 ha memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding lahan 0,5 ha. 2. Total biaya usahatani jahe per petani per musim tanam sebesar Rp 3.368.219, didominasi biaya variabel (bibit dan pestisida), sehingga pengeluaran habis pakai menjadi faktor utama. 3. Rata-rata pendapatan bersih per petani Rp 3.480.801. Mayoritas petani berada pada skala usaha kecil hingga menengah, dengan variasi pendapatan dipengaruhi luas lahan, produktivitas, pengalaman, efisiensi input, dan harga jual. 4. Risiko produksi jahe tergolong rendah (CV = 0,), artinya produksi relatif stabil dan memudahkan perencanaan usaha
Kata Kunci
Jahe, Usahatani, Produksi, Pendapatan, Kelayakan, Risiko
