Lainnya

Produksi Dan Saluran Pemasaran Kakako Biji (Theobroma cacao L.) di Desa Tarobok, Kecamatan Baebunta Kabupaen Luwu utara

Abstrak

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas
pertanian yang memiliki prospek cerah bagi para petani, karena perannya yang
cukup signifikan dalam mendukung perekonomian Indonesia. Kakao tidak hanya
menjadi sumber penghasilan dan devisa negara, tetapi juga menciptakan lapangan
kerja, mendorong pembangunan wilayah, serta mendukung pertumbuhan
agroindustri. Potensi besar tanaman ini terlihat dari kontribusinya terhadap
perekonomian nasional dan kemampuannya sebagai penghasil devisa. Pada tahun
2015, kakao menjadi komoditas ekspor perkebunan terbesar ketiga setelah kelapa
sawit dan karet, dengan nilai ekspor mencapai US$1.307,08 juta atau sekitar Rp
16,99 triliun. Sementara itu, pada tahun 2016, sektor perkebunan kakao mampu
menyediakan penghasilan dan pekerjaan bagi sekitar 1,7 juta keluarga petani di
seluruh Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi jumlah produksi serta
menganalisis tingkat pendapatan yang diperoleh petani kakao. Selain itu,
penelitian ini juga bertujuan untuk (2) menganalisis kelayakan usahatani kakao
biji, (3) mengidentifikasi dan mendeskripsikan saluran pemasaran yang
digunakan, serta (4) menganalisis tingkat efisiensi pemasaran kakao biji di daerah
penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Tarobok terhadap 65 petani kakao.
Mayoritas petani berada pada usia produktif (rata-rata 48 tahun), dengan
luas lahan rata-rata 1,11 ha, pendidikan didominasi tingkat SD, pengalaman
berusahatani rata-rata 10 tahun, dan jumlah tanggungan rata-rata 4 orang. Umur
tanaman kakao rata-rata 7,61 tahun, tergolong produktif. Rata-rata produksi kakao
per bulan sebesar 969,44 kg per petani (175,04 kg/ha) dengan tren meningkat dari Juni hingga Agustus. Rata-rata penerimaan per petani sebesar Rp22.444.480,8 per
bulan, sedangkan total biaya produksi Rp1.863.967,55, sehingga diperoleh
pendapatan bersih Rp 22.580.513,25 per petani (Rp20.342.804,07/ha). Hasil
analisis kelayakan menunjukkan nilai R/C Ratio sebesar 13,11, yang berarti
usahatani kakao biji layak dan menguntungkan untuk diusahakan. Dalam
pemasaran, terdapat satu saluran utama yaitu melalui pedagang besar. Efisiensi
pemasaran pada tingkat pedagang besar mencapai 72,73%, menunjukkan bahwa
sistem pemasaran kakao biji pada tingkat pedagang besar tergolong tidak efisien.
Secara keseluruhan, usahatani kakao di Desa Tarobok layak dikembangkan
dengan dukungan peningkatan produktivitas dan efisiensi pemasaran.

Kata Kunci

Kakao biji, produksi, pendapatan, pemasaran, efisiensi pemasaran

Dokumen

SAMPUL.pdf
application/pdf · 15 KB
Lihat dokumen →
HALAMAN PENGESAHAN.pdf
application/pdf · 847 KB
Lihat dokumen →
RINGKASAN.pdf
application/pdf · 12 KB
Lihat dokumen →
DAFTAR ISI.pdf
application/pdf · 15 KB
Lihat dokumen →
PENDAHULUAN.pdf
application/pdf · 75 KB
Lihat dokumen →
HASIL DAN PEMBAHASARN.pdf
application/pdf · 171 KB
Lihat dokumen →
DAFTAR PUSTAKA.pdf
application/pdf · 129 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 0 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 1 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 1 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 3 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 5 KB
Lihat dokumen →
indexcodes.txt
text/plain · 3 KB
Lihat dokumen →

Lihat di Repository Asli