PENGARUH BERENDAM AIR HANGAT GARAM TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT PADA WANITA DI PUSKESMAS TODDOPULI KOTA MAKASSAR TAHUN 2025
Abstrak
Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah jenis penyakit yang tidak
menyebar dari satu orang ke orang lain serta tidak ditularkan melalui kontak
langsung. PTM menjadi penyebab sekitar 35 juta kematian setiap tahunnya
di seluruh dunia, mencakup sekitar 60% dari total angka kematian global,
dengan sekitar 80% kasus terjadi di negara-negara berkembang. Penyakit
ini kerap berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang
mencolok, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa mereka
mengidapnya. Padahal, jika dapat terdeteksi lebih awal, tindakan
pencegahan dapat segera dilakukan Penyakit ini disebabkan oleh
akumulasi kristal monosodium urat di dalam tubuh, yang terbentuk sebagai
produk akhir dari metabolisme purin—zat yang merupakan bagian dari
asam nukleat dalam inti sel. Mengonsumsi makanan yang kaya purin dapat
menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam darah hingga mencapai
0,5–0,75 g/ml. Asam urat merupakan hasil metabolisme purin yang jika
kadarnya berlebihan dalam darah dapat membentuk kristal pada sendi,
sehingga menimbulkan gangguan seperti nyeri sendi dan termasuk dalam
kategori penyakit tidak menular. Pada tahun 2024 menunjukkan bahwa dari
seluruh penderita asam urat, hanya 24% yang mencari layanan medis,
sementara 71% memilih untuk langsung mengonsumsi obat pereda nyeri
bebas. Diagnosis resmi oleh tenaga kesehatan tercatat sebesar 11,9%, dan
jika digabungkan dengan gejala, mencapai 24,7%. Prevalensi asam urat
juga meningkat seiring bertambahnya usia, yakni: 1,2% (usia 15–24 tahun),
3,1% (25–34 tahun), 6,3% (35–44 tahun), 11,1% (45–54 tahun), 18,6% (65–
74 tahun), dan 18,9% (di atas 75 tahun).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi berendam
air hangat garam terhadap penurunan kadar asam urat pada wanita di
wilayah kerja Puskesmas Toddopuli, Kota Makassar tahun 2025. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment.
Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Toddopuli yang terdeteksi asam urat tidak normal, adapun
teknik pengambilan sampel diakukan dengan teknik purposive sampling
dan jumlah sampel sebanyak 15 orang. Analisis data dilakukan melalui uji
univariat dan bivariat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi berendam air hangat
garam menunjukkan pengaruh yang signifikan setelah 14 hari perlakuan
(2x1) dengan p = 0,001 (p < 0,05). Adapun Kesimpulan pada penelitian ini
yaitu, terdapat pengaruh signifikan pada terapi berendam air hangat garam
dalam membantu menurunkan kadar asam urat sebanyak 2 kali sehari
selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata- rata kadar asam
urat pada kelompok ini mengalami penurunan dari 7,87 mg/dL menjadi 6,64
mg/dL, dengan rata-rata penurunan sebesar 1,21 mg/dL
Berdasarkan temuan ini, peneliti menyarankan agar masyarakat
lebih memperhatikan pola makan dan rutin melakukan aktivitas fisik guna
mencegah peningkatan kadar asam urat.
menyebar dari satu orang ke orang lain serta tidak ditularkan melalui kontak
langsung. PTM menjadi penyebab sekitar 35 juta kematian setiap tahunnya
di seluruh dunia, mencakup sekitar 60% dari total angka kematian global,
dengan sekitar 80% kasus terjadi di negara-negara berkembang. Penyakit
ini kerap berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang
mencolok, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa mereka
mengidapnya. Padahal, jika dapat terdeteksi lebih awal, tindakan
pencegahan dapat segera dilakukan Penyakit ini disebabkan oleh
akumulasi kristal monosodium urat di dalam tubuh, yang terbentuk sebagai
produk akhir dari metabolisme purin—zat yang merupakan bagian dari
asam nukleat dalam inti sel. Mengonsumsi makanan yang kaya purin dapat
menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam darah hingga mencapai
0,5–0,75 g/ml. Asam urat merupakan hasil metabolisme purin yang jika
kadarnya berlebihan dalam darah dapat membentuk kristal pada sendi,
sehingga menimbulkan gangguan seperti nyeri sendi dan termasuk dalam
kategori penyakit tidak menular. Pada tahun 2024 menunjukkan bahwa dari
seluruh penderita asam urat, hanya 24% yang mencari layanan medis,
sementara 71% memilih untuk langsung mengonsumsi obat pereda nyeri
bebas. Diagnosis resmi oleh tenaga kesehatan tercatat sebesar 11,9%, dan
jika digabungkan dengan gejala, mencapai 24,7%. Prevalensi asam urat
juga meningkat seiring bertambahnya usia, yakni: 1,2% (usia 15–24 tahun),
3,1% (25–34 tahun), 6,3% (35–44 tahun), 11,1% (45–54 tahun), 18,6% (65–
74 tahun), dan 18,9% (di atas 75 tahun).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi berendam
air hangat garam terhadap penurunan kadar asam urat pada wanita di
wilayah kerja Puskesmas Toddopuli, Kota Makassar tahun 2025. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment.
Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Toddopuli yang terdeteksi asam urat tidak normal, adapun
teknik pengambilan sampel diakukan dengan teknik purposive sampling
dan jumlah sampel sebanyak 15 orang. Analisis data dilakukan melalui uji
univariat dan bivariat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi berendam air hangat
garam menunjukkan pengaruh yang signifikan setelah 14 hari perlakuan
(2x1) dengan p = 0,001 (p < 0,05). Adapun Kesimpulan pada penelitian ini
yaitu, terdapat pengaruh signifikan pada terapi berendam air hangat garam
dalam membantu menurunkan kadar asam urat sebanyak 2 kali sehari
selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata- rata kadar asam
urat pada kelompok ini mengalami penurunan dari 7,87 mg/dL menjadi 6,64
mg/dL, dengan rata-rata penurunan sebesar 1,21 mg/dL
Berdasarkan temuan ini, peneliti menyarankan agar masyarakat
lebih memperhatikan pola makan dan rutin melakukan aktivitas fisik guna
mencegah peningkatan kadar asam urat.
Kata Kunci
Asam Urat, Garam, Wanita, Air Hangat
