FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU TIDAK AMAN (UNSAFE ACTION) PADA PEKERJA BAGIAN OPERASIONAL DI PT PLN. IP UBP TELLO KOTA MAKASSAR TAHUN 2025
Abstrak
Kecelakaan kerja masih menjadi masalah serius di berbagai sektor,
termasuk sektor energi. Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh dua
faktor utama, yaitu kondisi tidak aman (unsafe condition) dan perilaku tidak
aman (unsafe action), di mana faktor perilaku tidak aman menyumbang
persentase terbesar. Perilaku tidak aman biasanya muncul akibat kurangnya
pengetahuan, sikap yang kurang mendukung keselamatan, serta lemahnya
pengawasan. Meskipun PT. PLN IP UBP Tello telah menerapkan program K3
dan edukasi, data internal menunjukkan masih adanya kasus near miss yang
meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini menunjukkan perlunya penelitian
lebih lanjut untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak
aman agar dapat dilakukan upaya pencegahan kecelakaan kerja yang lebih
efektif.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan
analitik melalui desain cross sectional study, di mana variabel independen
(pengetahuan, sikap, dan pengawasan) serta variabel dependen (perilaku
tidak aman) dikumpulkan dalam periode waktu yang sama. Data diperoleh
melalui observasi langsung di tempat kerja, wawancara dengan responden,
serta penyebaran kuesioner kepada seluruh pekerja bagian operasional
dengan teknik total sampling sebanyak 44 orang. Sumber data terdiri atas data
primer yang berasal dari hasil observasi, wawancara, dan kuesioner, serta data
sekunder yang diperoleh dari dokumen perusahaan dan literatur terkait. Data
yang terkumpul kemudian diolah melalui tahapan editing, coding, entry, dan
cleaning sebelum dianalisis. Analisis dilakukan secara univariat untuk
mendeskripsikan distribusi frekuensi tiap variabel dan bivariat menggunakan
uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05 guna mengetahui ada atau
tidaknya hubungan antar variabel.
Adapun Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 44 responden pekerja
bagian operasional di PT. PLN IP UBP Tello Makassar, sebagian besar memiliki
perilaku tidak aman yang tinggi (95,5%), sedangkan hanya 4,5% yang
xiv
menunjukkan perilaku tidak aman rendah. Mayoritas responden memiliki
pengetahuan tinggi (93,2%), namun sikap yang ditunjukkan cenderung negatif
(79,5%) dan pengawasan yang dirasakan sebagian besar rendah (97,7%). Uji
bivariat dengan Chi-Square memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan
antara pengetahuan (p=0,002), sikap (p=0,004), dan pengawasan (p=0,003)
dengan perilaku tidak aman. Dengan demikian, semakin baik pengetahuan,
sikap positif, dan pengawasan yang diberikan, maka semakin rendah
kecenderungan pekerja untuk melakukan perilaku tidak aman di lingkungan
kerja.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perilaku tidak aman pada
pekerja bagian operasional di PT. PLN IP UBP Tello Makassar masih
ditemukan meskipun sebagian besar responden menunjukkan tingkat
pengetahuan yang tinggi. Faktor pengetahuan, sikap, dan pengawasan
terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku tidak aman.
Pekerja dengan pengetahuan rendah, sikap negatif, serta pengawasan yang
kurang cenderung lebih sering melakukan tindakan tidak aman yang berisiko
menimbulkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan
melalui edukasi K3, pembentukan sikap positif terhadap keselamatan, serta
pengawasan yang lebih intensif dan konsisten sangat diperlukan untuk
menekan terjadinya perilaku tidak aman dan mencegah kecelakaan kerja di
lingkungan operasional.
termasuk sektor energi. Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh dua
faktor utama, yaitu kondisi tidak aman (unsafe condition) dan perilaku tidak
aman (unsafe action), di mana faktor perilaku tidak aman menyumbang
persentase terbesar. Perilaku tidak aman biasanya muncul akibat kurangnya
pengetahuan, sikap yang kurang mendukung keselamatan, serta lemahnya
pengawasan. Meskipun PT. PLN IP UBP Tello telah menerapkan program K3
dan edukasi, data internal menunjukkan masih adanya kasus near miss yang
meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini menunjukkan perlunya penelitian
lebih lanjut untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak
aman agar dapat dilakukan upaya pencegahan kecelakaan kerja yang lebih
efektif.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan
analitik melalui desain cross sectional study, di mana variabel independen
(pengetahuan, sikap, dan pengawasan) serta variabel dependen (perilaku
tidak aman) dikumpulkan dalam periode waktu yang sama. Data diperoleh
melalui observasi langsung di tempat kerja, wawancara dengan responden,
serta penyebaran kuesioner kepada seluruh pekerja bagian operasional
dengan teknik total sampling sebanyak 44 orang. Sumber data terdiri atas data
primer yang berasal dari hasil observasi, wawancara, dan kuesioner, serta data
sekunder yang diperoleh dari dokumen perusahaan dan literatur terkait. Data
yang terkumpul kemudian diolah melalui tahapan editing, coding, entry, dan
cleaning sebelum dianalisis. Analisis dilakukan secara univariat untuk
mendeskripsikan distribusi frekuensi tiap variabel dan bivariat menggunakan
uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05 guna mengetahui ada atau
tidaknya hubungan antar variabel.
Adapun Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 44 responden pekerja
bagian operasional di PT. PLN IP UBP Tello Makassar, sebagian besar memiliki
perilaku tidak aman yang tinggi (95,5%), sedangkan hanya 4,5% yang
xiv
menunjukkan perilaku tidak aman rendah. Mayoritas responden memiliki
pengetahuan tinggi (93,2%), namun sikap yang ditunjukkan cenderung negatif
(79,5%) dan pengawasan yang dirasakan sebagian besar rendah (97,7%). Uji
bivariat dengan Chi-Square memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan
antara pengetahuan (p=0,002), sikap (p=0,004), dan pengawasan (p=0,003)
dengan perilaku tidak aman. Dengan demikian, semakin baik pengetahuan,
sikap positif, dan pengawasan yang diberikan, maka semakin rendah
kecenderungan pekerja untuk melakukan perilaku tidak aman di lingkungan
kerja.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perilaku tidak aman pada
pekerja bagian operasional di PT. PLN IP UBP Tello Makassar masih
ditemukan meskipun sebagian besar responden menunjukkan tingkat
pengetahuan yang tinggi. Faktor pengetahuan, sikap, dan pengawasan
terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku tidak aman.
Pekerja dengan pengetahuan rendah, sikap negatif, serta pengawasan yang
kurang cenderung lebih sering melakukan tindakan tidak aman yang berisiko
menimbulkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan
melalui edukasi K3, pembentukan sikap positif terhadap keselamatan, serta
pengawasan yang lebih intensif dan konsisten sangat diperlukan untuk
menekan terjadinya perilaku tidak aman dan mencegah kecelakaan kerja di
lingkungan operasional.
Kata Kunci
Perilaku Tidak Aman,Pengetahuan,Sikap, Kecelakaan Kerja
