MANAJEMEN GLUKOSA PADA Ny. N DENGAN HIPOGLIKEMI DI INSTALASI GAWAT DARURAT RS TK II PELAMONIA KOTA MAKASSAR
Abstrak
Latar Belakang: Hipoglikemi adalah kondisi dimana kadar glukosa dalam darah
sangat rendah. Hipoglikemi juga umum terjadi DM tipe 2 dengan prevalensi 70-80%.
Komplikasi hipoglikemia sering terjadi akibat ketidakseimbangan antara pemberian
insulin atau obat antidiabetes oral dengan asupan makanan, dan dapat berakibat fatal
jika tidak segera ditangani, mengingat otak sangat bergantung pada glukosa sebagai
sumber energi utama.
Tujuan:Menganalisis penerapan intervensi manajemen hipoglikemia pada satu kasus
kegawatdaruratan, serta mengevaluasi manajemen glukosa dalam menstabilkan kadar
glukosa darah pasien.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada Ny. N (43 tahun) yang
datang ke instalasi gawat darurat dalam kondisi lemas seluruh badan dan kadar glukosa
dalam darah GDS: 60 mg/dl.Intervensi keperawatan berfokus pada manajemen
hipoglikemia, khususnya pemberian glukosa secara kolaboratif, disertai manajemen
glukosa dengan karbohidrat sederhana seperti air gula, berikan 15- 20gram karbohidrat
oral atau 3-4 sendok makan gula pasir dilarutkan dalam air 250 cc, kemudian anjurkan
pasien untuk posisi duduk, berikan pada pasien untuk di minum). Pemberian air gula
15-30 menit kemudian monitor ulang kadar glukosa,hasil evaluasi pada diagnosa
keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan hipoglikemi
dengan cara mengecek GDS setelah 15 menit pemberian glukosa kembali membaik
yaitu 80mg/dL, lalu pada jam 17.00 didapatkan kadar glukosa darah naik menjadi 113
mg/dL. Kemudian pada pukul 20.00 didapatkan hasil makin membaik menjadi 123
mg/dL.
Hasil:hasil dari manajemen glukosa 15 menit pertama dengan Nilai GDS pasien
meningkat dari 60 mg/dL menjadi 80 mg/dL, lalu pada 30 menit berikutnya naik hingga
113 mg/dL, dan mencapai 123 mg/dL.
Kesimpulan: Intervensi manajemen hipoglikemia dengan pemberian air gula terbukti
efektif dalam meningkatkan kadar glukosa darah dan menurunkan risiko komplikasi.
Metode ini direkomendasikan sebagai praktik keperawatan berbasis bukti untuk
mengatasi kegawatdaruratan, sekaligus meminimalkan angka kematian akibat
hipoglikemia.
sangat rendah. Hipoglikemi juga umum terjadi DM tipe 2 dengan prevalensi 70-80%.
Komplikasi hipoglikemia sering terjadi akibat ketidakseimbangan antara pemberian
insulin atau obat antidiabetes oral dengan asupan makanan, dan dapat berakibat fatal
jika tidak segera ditangani, mengingat otak sangat bergantung pada glukosa sebagai
sumber energi utama.
Tujuan:Menganalisis penerapan intervensi manajemen hipoglikemia pada satu kasus
kegawatdaruratan, serta mengevaluasi manajemen glukosa dalam menstabilkan kadar
glukosa darah pasien.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada Ny. N (43 tahun) yang
datang ke instalasi gawat darurat dalam kondisi lemas seluruh badan dan kadar glukosa
dalam darah GDS: 60 mg/dl.Intervensi keperawatan berfokus pada manajemen
hipoglikemia, khususnya pemberian glukosa secara kolaboratif, disertai manajemen
glukosa dengan karbohidrat sederhana seperti air gula, berikan 15- 20gram karbohidrat
oral atau 3-4 sendok makan gula pasir dilarutkan dalam air 250 cc, kemudian anjurkan
pasien untuk posisi duduk, berikan pada pasien untuk di minum). Pemberian air gula
15-30 menit kemudian monitor ulang kadar glukosa,hasil evaluasi pada diagnosa
keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan hipoglikemi
dengan cara mengecek GDS setelah 15 menit pemberian glukosa kembali membaik
yaitu 80mg/dL, lalu pada jam 17.00 didapatkan kadar glukosa darah naik menjadi 113
mg/dL. Kemudian pada pukul 20.00 didapatkan hasil makin membaik menjadi 123
mg/dL.
Hasil:hasil dari manajemen glukosa 15 menit pertama dengan Nilai GDS pasien
meningkat dari 60 mg/dL menjadi 80 mg/dL, lalu pada 30 menit berikutnya naik hingga
113 mg/dL, dan mencapai 123 mg/dL.
Kesimpulan: Intervensi manajemen hipoglikemia dengan pemberian air gula terbukti
efektif dalam meningkatkan kadar glukosa darah dan menurunkan risiko komplikasi.
Metode ini direkomendasikan sebagai praktik keperawatan berbasis bukti untuk
mengatasi kegawatdaruratan, sekaligus meminimalkan angka kematian akibat
hipoglikemia.
Kata Kunci
Hipoglikemi, Manajemen Glukosa.
