PERILAKU REMAJA MENGENAI PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR PADA BUNGKUS ROKOK DI KOTA MAKASSAR
Abstrak
Di Indonesia, upaya pengendalian tembakau masih menghadapi
tantangan yang cukup signifikan, terutama karena tingginya prevalensi
perilaku merokok pada lingkungan remaja. Salah satu kebijakan yang
diterapkan pemerintah dalam rangka menekan komsumsi rokok adalah
penggunaan Pictorial Health Warning (PHW) pada kemasan rokok sebagai
media komunikasi risiko berbasis visual. Kebijakan tersebut dirancang
untuk menyampaikan pesan Kesehatan secara persuasive melalui
representasi gambar yang bersifat informatif dan preventif. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis secara mendalam persepsi remaja, respon
psikologis yang muncul, pengaruh sosial budaya, serta peran keluarga dan
tokoh masyarakat terhadap keberadaan PHW di kota Makassar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi kualitatif dengan
metode deskriptif. Informan berjumlah 11 orang yang terdiri atas 1 Informan
Kunci (Psikolog), 4 Informan Pendukung ( Pakar Media, Guru, Orang Tua,
dan Kader Kesehatan), serta 6 Informan Biasa (Remaja). Pengumpulan
data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan
dokumentasi. Analisis data menggunakan content analysis dengan tahapan
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta uji
keabsahan melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi remaja terhadap
Pictorial Health Warning (PHW) bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh
intensitas paparan serta pengalaman individu. Pada paparan awal,
Sebagian besar remaja mengungkapkan munculnya respons emosional
berupa rasa takut, terkejut, dan jijik terhadap visualisasi penyakit yang di
tampilkan pada kemasan rokok. Gambar – gambar tersebut dinilai cukup
mengganggu dan mampu menimbulkan kesadaran sesaat mengenai
bahaya rokok. Namun, demikian respons emosional tersebut cenderung
mengalami penurunan seiring dengan paparan yang berulang. Secara
psikologis, penelitian ini menemukan adanya kecenderungan rasionalisasi
terhadap pesan Kesehatan yang disampaikan. Meskipun remaja
memahami makna dari peringatan Kesehatan bergambar yang tertera,
pemahaman tersebut tidak selalu berimplikasi pada perubahan sikap
maupun perilaku. Beberapa informan memandang risiko Kesehatan dalam
PHW sebagai sesuatu yang belum relevan dengan kondisi mereka,
sehingga tidak menimbulkan dorongan kuat untuk menghindari perilaku
merokok. Pengaruh teman sebaya dan normalisasi merokok dalam
lingkungan pergaulan turut melemahkan efektivitas pesan Kesehatan
tersebut.
Sebaliknya, keluarga menjadi faktor yang lebih konsisten dalam
membentuk sikap remaja. Keteladanan orang tua yang tidak merokok dan
komunikasi yang baik mendorong sikap yang lebih kritis terhadap merokok,
sedangkan inkonsistensi perilaku orang tua dapat melemakan internalisasi
pesan PHW. Peran tokoh masyarakat juga dinilai masih belum optimal
dalam memperkuat pesan Kesehatan di lingkungan remaja.
Efektivitas Peringatan Kesehatan Bergambar pada remaja tidak
hanya ditentukan oleh kekuatan visual pesan, tetapi juga sangat
dipengaruhi oleh konteks sosial dan lingkungan keluarga. Di perlukan
penguatan intervensi berbasis keluarga dan komunitas untuk meningkatkan
dampak kebijakan Peringatan Kesehatan Bergambar.
tantangan yang cukup signifikan, terutama karena tingginya prevalensi
perilaku merokok pada lingkungan remaja. Salah satu kebijakan yang
diterapkan pemerintah dalam rangka menekan komsumsi rokok adalah
penggunaan Pictorial Health Warning (PHW) pada kemasan rokok sebagai
media komunikasi risiko berbasis visual. Kebijakan tersebut dirancang
untuk menyampaikan pesan Kesehatan secara persuasive melalui
representasi gambar yang bersifat informatif dan preventif. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis secara mendalam persepsi remaja, respon
psikologis yang muncul, pengaruh sosial budaya, serta peran keluarga dan
tokoh masyarakat terhadap keberadaan PHW di kota Makassar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi kualitatif dengan
metode deskriptif. Informan berjumlah 11 orang yang terdiri atas 1 Informan
Kunci (Psikolog), 4 Informan Pendukung ( Pakar Media, Guru, Orang Tua,
dan Kader Kesehatan), serta 6 Informan Biasa (Remaja). Pengumpulan
data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan
dokumentasi. Analisis data menggunakan content analysis dengan tahapan
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta uji
keabsahan melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi remaja terhadap
Pictorial Health Warning (PHW) bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh
intensitas paparan serta pengalaman individu. Pada paparan awal,
Sebagian besar remaja mengungkapkan munculnya respons emosional
berupa rasa takut, terkejut, dan jijik terhadap visualisasi penyakit yang di
tampilkan pada kemasan rokok. Gambar – gambar tersebut dinilai cukup
mengganggu dan mampu menimbulkan kesadaran sesaat mengenai
bahaya rokok. Namun, demikian respons emosional tersebut cenderung
mengalami penurunan seiring dengan paparan yang berulang. Secara
psikologis, penelitian ini menemukan adanya kecenderungan rasionalisasi
terhadap pesan Kesehatan yang disampaikan. Meskipun remaja
memahami makna dari peringatan Kesehatan bergambar yang tertera,
pemahaman tersebut tidak selalu berimplikasi pada perubahan sikap
maupun perilaku. Beberapa informan memandang risiko Kesehatan dalam
PHW sebagai sesuatu yang belum relevan dengan kondisi mereka,
sehingga tidak menimbulkan dorongan kuat untuk menghindari perilaku
merokok. Pengaruh teman sebaya dan normalisasi merokok dalam
lingkungan pergaulan turut melemahkan efektivitas pesan Kesehatan
tersebut.
Sebaliknya, keluarga menjadi faktor yang lebih konsisten dalam
membentuk sikap remaja. Keteladanan orang tua yang tidak merokok dan
komunikasi yang baik mendorong sikap yang lebih kritis terhadap merokok,
sedangkan inkonsistensi perilaku orang tua dapat melemakan internalisasi
pesan PHW. Peran tokoh masyarakat juga dinilai masih belum optimal
dalam memperkuat pesan Kesehatan di lingkungan remaja.
Efektivitas Peringatan Kesehatan Bergambar pada remaja tidak
hanya ditentukan oleh kekuatan visual pesan, tetapi juga sangat
dipengaruhi oleh konteks sosial dan lingkungan keluarga. Di perlukan
penguatan intervensi berbasis keluarga dan komunitas untuk meningkatkan
dampak kebijakan Peringatan Kesehatan Bergambar.
Kata Kunci
Perilaku Remaja mengenai gambar kesehatan pada bungkus rokok
